Minggu, 12 April 2015

Si Pungguk

Baru saja usai baca cerita di blog, kisah si Pungguk & si Rembulan.

Bagaimana menyatakannya.... Yah... di dunia seperti ini, ada kalanya kita menjadi si Pungguk, ada kalanya kita jadi Rembulan.... keseimbangan yang aneh. Kadang kita menginginkan seseorang, namun tidak berbalas. Atau bahkan kita yg ang diinginkan orang, namun kita tidak membalas.

Dan... dari diinginkan-menginkan itu, aku merasa mual. Pusing, seolah-olah habis diputar dalam lingkaran tak berujung....

Aku sendiri sudah tidak tahu pentingnya mencintai dan dicintai, apalagi ingin diinginkan. Aku.... mati rasa.
Kecil percayaku akan cinta dalam hubungan di dunia seperti ini. Mungkin karenaakhirnya aku jadi ragu dengan rasaku sendiri. Terlatih patah sambung patah sambung.

Sayang aku punya. Tapi takut sudah untuk lebih kompleks lagi.

Sabtu, 11 April 2015

Lubang

Ada lubang... dan ketika menemukan penutupnya terus pas.... itulah yang terjadi.

Lubang... di diri kita.... mencari pentupnya bukanlah hal yang mudah. Dari wajah ke wajah, tubuh ke tubuh, lenguhan ke lenguhan, lalu berakhir kembali menjadi lubang menganga.

Sampai kapan ya Tuan?

tes

Minggu, 05 April 2015

Deleted Twitter Account

Baru saja aku menghapus akun twitterku. Kenapa? Tidak apa-apa. Nothing personal. Hanya saja, beberapa hari lalu aku baru sadar bahwa aku memiliki account lain dalam keadaan aktif namun tidak pernah posting. Jadi dalam beberapa hari cuma mikir why do I need more than one account just to tweet?

Udah coba untuk merging account yang aktif posting dengan yang pasif. Gak bisa ternyata. So… harus ada yang mengalah. Yang aktif aku deactivate. Aneh ya? Nggak juga. Kebanyakan orang mungkin pusing dengan follower yang telah diraih. Tapi… dalam posisiku, hal-hal seperti itu tidak penting lagi. Jadi gak apa-apa lah.

Jika tertulis kita akan ketemu lagi kok. Smile. You will find me.

Senin, 23 Maret 2015

Kata Orang-Orang

Kata orang-orang saya manis, saya cakep, saya ganteng, saya jelek, saya buruk... saya ini... saya itu.. saya.... saya.... saya.... kata mereka....

Kata saya, saya hanya manusia biasa. Tidak ada spion untuk memantau wajah saya. Saya sama seperti pria lainnya atau bahkan manusia lainnya. Saya berkekurangan, saya berkelebihan. Saya hanya pria kecil di semesta ini yang mencoba jalani hidup dengan sama tertatihnya dengan yang lain.

Ada kalanya saya pun dilecehkan karena saya bukan tipe seseorang. 
Tapi ya saya paham, saya pun juga lakukan hal yang sama kok ke orang-orang. Apa yang saya pahami? Saya paham bahwa saya sedang bercumbu dengan keinginan saya sendiri dan ketika apa yang saya inginkan nyatanya tidak sesuai ya tidak apa-apa. Saya tidak harus kan lalu menghukum diri saya dengan berpikir bahwa saya jelek?.

Saya ini cuma satu. Ganteng, manis, mulus, putih, jelek, buruk apalah, selamanya saya akan seperti ini dan akan begini saja. Saya gak akan pergi ke Thailand atau Korea atau suntik ini itu atau sayat ini itu demi mengubah bentuk saya. Anda bisa membuat orang seperti saya? Tidak kan? 

Dan kamu, yang tidak menyukai saya, mari saya jelaskan satu hal, hanya karena kamu merasa bahwa kamu segalanya, belum tentu saya tergila-gila dan menyukai kamu dengan apa yang kamu punya. Jadi jangan gede kepala. Tentu saya bisa juga sebenarnya berpikir bahwa kamu cuma mainan, atau bahkan hanya rantai terendah dari kehidupan. Seperti halnya kamu pun berpikir tentang saya.

Bisa kita jalani hidup ini dengan menghargai? Jika bisa, berhentilah menganggap manusia lain barang pabrikan.

Trey & Cinta

Kamu sudah tiada...
Tapi cinta ini masih hidup. Berdenyut bahkan menjadi alasan mengapa aku melakukan hal yang aku lakukan untuk orang lain. Aku merayakan mu dari waktu ke waktu.

Cinta kita, tidak lama. 6 bulan saja ketika akhirnya kamu memutuskan pergi selamanya.
Aku yang kamu tinggalkan tidak bisa berbuat apa-apa karena kita begitu jauh.

Tadinya kupikir, pasti lah salahku, karena kita begitu jauh. 16.187 km dan penghubung kita hanya rasa dan monitor komputer. Tidak pernah kamu bercerita tentang segala hal yang membuatmu gundah. Kita selalu bersenang-senang hingga akhirnya kamu pergi.

Lama aku berpikir dan mencari, apa yang membuatmu gundah, hingga akhirnya aku paham. Tapi aku memilih untuk bertahan.

Cinta ini masih ada, tumbuh sendiri seperti rumput liar, dan karenanyalah aku hidup....